Sunday, January 25, 2015

Berkunjung ke Desa Rantau Bujur (eps. Bukit Kapayang)

Kecamatan Aranio (3o9’34’’ LS – 3o17’58’’LS dan 115o7’50” – 115o5’13”) merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Kecamatan ini melingkupi 12 desa (diurut dari lokasi kantor desa yang paling dekat ke yang paling jauh menuju kantor Kecamatan Aranio), yaitu: Aranio, Tiwingan Lama, Tiwingan Baru, Belangian, Paau, Kalaan, Artain, Benua Riam, Bunglai, Apuai, Rantau Bujur (20 km), dan Rantau Balai. Desa-desa ini berada di sekitar waduk Ir. P. H. M. Noor yang lebih dikenal dengan sebutan waduk Riam Kanan.
Aku akan bercerita mengenai kunjunganku ke Desa Rantau Bujur bersama kawan-kawan yang tergabung dalam South Borneo Travellers. Kunjungan yang bermakna dan sangat menyenangkan. Sebab, selain untuk travelling (namanya juga komunitas jalan-jalan), kedatangan kami ke desa ini juga untuk melakukan bakti sosial.

Selasa, 20 Januari 2015.
Pukul sembilan pagi kami berkumpul di dermaga Riam Kanan. Bang Deddy, Adit, Al, Rama, Hafiz, Fandy, Ega, Dayat, Ucup, Donny,Roew, Hendra, Aal, Stevan, Zaini, Enoy, Sari, Halimatus, Dwi, Nanda, Denina, Netya, Ka Ardi beserta istri (Ka Erna) dan anak bungsunya yang berumur 5 tahun (Azzam), dan tentunya aku. Kami menuju Desa Rantau Bujur menggunakan kelotok yang sudah kami pesan beberapa hari sebelumnya.

kelotok inilah yang mengantar jemput kami
berfoto dulu di depan dermaga desa *belum ada plang nama desa*
makan kuaci menambah keakraban selama diperjalanan
Ada kelotok yang berfungsi sebagai taksi air dari dermaga Riam Kanan menuju Desa Rantau Bujur. Pagi dari desa dan sore hari dari dermaga Riam Kanan. Meskipun Desa Rantau Bujur bisa didatangi lewat jalan darat, tapi jauh lebih nyaman jika menuju desa ini melalui jalur air. Hal ini menjadikan kelotok sebagai alat transportasi vital bagi warga jika akan bepergian ke luar desa.
Perjalanan dengan waktu tempuh 2 jam membuat kami menikmati banyak pemandangan yang disuguhkan oleh waduk Riam Kanan. Keramba-keramba nelayan Riam Kanan, pemukiman penduduk, bukit-bukit yang sekarang menjadi destinasi travellers lokal seperti Bukit Batas, Bukit Batu, dan Bukit Atawang, aktivitas warga, juga sapi-sapi yang merumput di daratan/pulau-pulau kecil di area waduk Riam Kanan. Sungguh mempesona.

Bukit Batu
 Sampai di wilayah Desa Apuai kelotok mulai meninggalkan waduk dan masuk ke jalur sungai. Tak lama kemudian sampailah kami di Desa Rantau Bujur. Horeee… Kedatangan kami disambut gembira Pak M. Mukeri, Pambakal (Kepala Desa) Rantau Bujur. Rumah beliau lah yang menjadi tempat bermalam kami selama di Desa Rantau Bujur.
“Mana foto kita kemarin?” tanya Pak Mukeri pada teman-teman yang sebelumnya sudah pernah berkunjung ke Rantau Bujur.

foto kunjungan sebelumnya
Kunjungan mereka saat itulah yang akhirnya membawa kami datang ke tempat ini untuk trekking ke Bukit Kapayang dan membawa sedikit buah tangan. Buah tangan berupa buku-buku untuk perpustakaan sekolah, papan nama desa untuk dipasang di dermaga, papan nama kepala desa untuk dipasang di depan rumah, sekardus permen coklat dan beberapa bungkus paket alat tulis yang akan dibagikan kepada siswa-siswa saat kami berkunjung ke sekolah. Oleh karena itu, kami mengkategorikan trip kali ini sebagai voluntourism*.
Setelah beristirahat, sholat, dan makan siang, kami pamit pada Pak Mukeri untuk pergi ke Bukit Kapayang. Ditemani perang (amang) Anshari yang bertindak sebagai guide dan rinai hujan, kami pergi ke Bukit Kapayang dengan bersemangat dan penuh warna. Sumpah! Saat itu aku mengenakan jas hujan warna biru, Adit mengenakan jas hujan warna kuning, Azzam mengenakan jas hujan warna pink, payung yang kami gunakan untuk melindungi diri dari hujan juga warna-warni. Penuh warna, kan? :D

kecil-kecil begini Azzam sering trekking loh
Untuk menuju Bukit Kapayang kami harus menyeberangi sungai yang di musim hujan ini menjadi lebar dan dalam. Hal kocak namun menegangkan pun terjadi saat kami turun ke kelotok (yang ukurannya jauh lebih kecil dibanding kelotok yang membawa kami dari dermaga). Aku yang tidak bisa berenang langsung pucat, takut kelotok oleng dan terbalik. Ditambah Dwi yang parnoan dan histeris saat menaiki kelotok membuatku tambah takut hingga duduk terdiam tanpa berani bergerak. Hahahaha… untungnya histeriaku hilang saat kelotok mulai melaju membelah sungai. Sampai di seberang, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Hujan membuat jalur yang kami tempuh menjadi becek bahkan tergenang.
kelotok yang membawa kami menyeberang menuju Bukit Kapayang


foto bareng dulu sebelum memulai trekking.
warna-warni jas hujan dan payung menambah semarak trekking kami
“Semoga tidak ada pacat (lintah),” ucapku dalam hati. Doa anak sholehah terkabul (hehehee…). Tak satu pun dari kami yang melihat/digigit lintah. Tapiiii…. tak satupun dari kami yang terbebas dari butuh bujang (ada yang tahu apa Bahasa Indonesia/bahasa latinnya rumput yang kepala/butiran buahnya suka nempel ini?!). Banyak bingit!! Azzam yang biasanya enjoy naik bukit/gunung kali ini merenggek minta hambin (gendong) ke abahnya. Meski demikian, ada saja yang rela rebahan di rumput demi bisa mendapatkan foto dengan gaya andalannya setiap kali travelling. Alhasil, butuh bujang tidak hanya nempel di celana tapi juga baju dan jilbab. Hahahaa…

diperjalanan menuju Bukit Kapayang
foto-foto jalan terus sebagai kenangan sewaktu trekking
Alhamdulillah, saat berada di Bukit Kapayang hujan reda. Kami pun bisa berfoto-foto dan menikmati pemandangan tanpa harus mengenakan jas hujan dan payung. Bahkan, puncak Gunung Pahiyangan yang awalnya tertutup kabut pun berangsur dapat terlihat. Senang rasanya bisa melihat gunung ini dari dekat.

Gunung Pahiyangan dari Bukit Kapayang
Menurut informasi yang didapat, Gunung Pahiyangan ini berbentuk segi delapan sehingga jika dilihat dari sisi manapun bentuknya akan sama. Puncaknya yang datar menambah eksotika gunung hingga kami menjulukinya table mountain. Gunung ini memiliki beberapa mandin (air terjun) dan telaga. Salah satu adalah mandin pantan. Jika debit air terjun ini sedang banyak, air yang jatuh akan membentuk tiga aliran hingga terlihat seperti tirai. Namun kali ini kami hanya sampai Bukit Kepayang karena untuk ke mandin pantan masih harus trekking sekitar 1,5 jam lagi.


Tidak banyak yang pernah naik ke puncaknya. Ketiadaan informasi mengenai koordinat, ketinggian gunung, dan kondisi jalur ke puncaknya membuat gunung ini semakin menarik (untuk dipandangi). Teman-teman yang sebelumnya kesini pun hanya sampai mandin Pantan. Ke mandin pantan saja memakan waktu berjam-jam, apalagi ke puncak. Nanti lah aku kesana, tapi lewat google earth saja :p

Gunung Pahiyangan
Sekilas tentang Desa Rantau Bujur.
Status/klasifikasi =  desa swasembada
Jarak dari kantor desa ke kantor kecamatan di Aranio = 20 km
Luas wilayah = 314 km2
Jumlah penduduk (2011) = 807 jiwa (3 jiwa/km2)
Jumlah Rukun Tetangga = 3 RT
Jumlah sekolah = 2 buah (SDN Rantau Bujur dan SMPN 4 Aranio)
Pelayanan medis = 1 buah puskesmas pembantu
(sumber: Kecamatan Aranio dalam Angka Tahun 2012)

*Voluntourism, volunteer tourism, volunteer travel, volunteer vacations = travel which includes volunteering for a charitable cause --- berwisata sambil melakukan kegiatan dengan sukarela di tempat yang dikunjungi).
**semua foto adalah dokumentasi SBTers.

bersambung ke episode Volunteering

1 comment:

  1. Nanggung ga sampe puncak. Anak SBT mkin eksis.

    ReplyDelete